Opinion

Bisa Programming Saja Tidak Cukup di tengah Gempuran AI

Oleh matheus •
4 menit waktu baca

Tidak bisa kita pungkiri bahwa saat ini kita berada di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), secara khusus generative AI. Mulai dari pembuatan teks, pembuatan gambar, hingga pembuatan program code. Pertanyaannya apakah pekerjaan programmer akan tergantikan oleh merebaknya teknologi AI? Apakah bisa coding saja masih cukup?

Rajin-Rajin Belajar?

Mengembangkan skill sudah merupakan hal yang sangat penting dalam dunia kerja. Berdasarkan laporan dari World Economic Forum (WEF) berjudul New Economy Skills: Building AI, Data and Digital Capabilities for Growth (2025) disebutkan bahwa rata-rata seseorang butuh waktu 67,3 jam untuk menguasai programming tingkat dasar dan butuh waktu 144 jam untuk sampai ke tingkat advance. Berarti apabila seseorang meluangkan waktu 5 jam setiap pekan untuk belajar programming maka kemungkinan ia akan berada di titik advance dalam 29 pekan atau mungkin sekitar 6-7 bulan. Anggaplah ada banyak orang yang jauh lebih rajin, apakah sekadar adu rajin cukup bagi seseorang untuk berkompetisi dengan sesama pekerja atau bahkan dengan AI? Padahal di satu sisi, AI juga bisa coding.

Perlu Naik Tingkat

Mau tidak mau, programmer juga perlu paham tentang AI. Apakah boleh menggunakan AI untuk pekerjaan coding? Boleh-boleh saja. Tetapi, programmer harus menjadi lebih dari itu. Jangan sampai ia tidak memahami code apa yang ia tulis. Programmer bagaimanapun juga harus memahami logika di balik code tersebut. Kalau sampai terjadi berulang-ulang coding dan debugging semua diserahkan kepada AI, bisa jadi programmer tidak lagi memahami apa yang dia kerjakan.

Sebelum mulai bekerja, ada baiknya programmer punya SOP dan disiplin kerja yang jelas atau dengan kata lain, sebuah sistem yang menjadi pagar baginya dalam bekerja. SOP ini membuat programmer bekerja dengan konsisten dan menjadi sarana untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Apabila konteksnya adalah sebuah korporasi, maka perusahaan itulah yang perlu membentuk disiplin dan standar kerja yang jelas bagi para programmernya.

Untuk melengkapi disiplin kerja yang baik, dibutuhkan juga kemampuan untuk dapat membedah suatu masalah menjadi hal-hal yang lebih sederhana dan memahami kaitan satu dengan yang lain. AI dapat membantu menulis code dan mungkin AI dapat membantu untuk menguraikan permasalahan. Tetapi alangkah lebih baik kalau programmer menjelaskan kepada AI bagaimana cara ia berpikir, bagaimana cara ia memandang masalah, dan bagaimana ia ingin masalah itu diurai. AI yang dipandu dengan baik akan menghasilkan jawaban yang lebih tepat guna. Jika pengguna mulai tanpa pemahaman awal, maka pengguna tersebut akan mudah sekali terombang-ambing oleh jawaban-jawaban dari AI.

Di sinilah, programmer harus berubah dari user menjadi overseer. Ia tidak hanya menggunakan, tetapi menjadikan AI sebagai manifestasi dari cara berpikirnya. Kalau semenjak awal programmer sudah memiliki logika, disiplin, analisis, dan sistem yang baik maka AI akan menjadi dongkrak (leverage) bagi dirinya. Dalam hal ini, programmer perlu secara rutin mengembangkan dirinya sendiri, cara berpikirnya, caranya menyelesaikan masalah, dan sebagainya untuk kemudian ditanamkan dalam kecerdasan buatan. Setelah memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka yang kemampuan berikutnya perlu ditingkatkan adalah tentang rasa.

Memanfaatkan Kekuatan Manusia Bagi Manusia

Jika kita pikirkan sekali lagi, siapa yang menggunakan aplikasi? Siapa yang menggunakan ERP? Siapa yang menggunakan website? Pada akhirnya semua itu digunakan oleh manusia. Mudahnya, programmer sebaiknya berpikir apa yang baik dan nyaman bagi manusia dan semua itu berujung pada user experience (UX). Untuk membuat UX yang baik, programmer sangat dianjurkan untuk memahami manusia yang menggunakan. AI tidak punya cita rasa manusia. Mungkin AI bisa “tahu”, tetapi ia tidak bisa merasa. AI belum tentu bisa memahami kesulitan manusia menghadapi user interface (UI) yang kusut dan tidak intuitif. Code tanpa bug, oke itu bagus. Tetapi ketika kita ditantang untuk menyelesaikan pain point, bukankah itu kembali pada soal bagaimana kita memahami sesama manusia?

User experience itu jauh terjadi sebelum muncul di front-end, tetapi sudah mulai terjadi ketika meeting dengan klien. Di situ programmer tidak hanya mendengarkan permintaan klien tetapi menjadi rekan terpercaya untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Jika programmer berhenti di bisa coding, maka pekerjaannya dapat digantikan oleh AI. Tetapi jika programmer mampu memahami klien dan memberi solusi yang terbaik, itulah yang akan bertahan.

Berdasarkan laporan dari WEF, programming tidak lagi menjadi kemampuan digital yang esensial di tahun 2030 dan diperkirakan kegunaannya akan terus berkurang. Sedangkan, design and user experience adalah kemampuan digital yang kemungkinan akan menjadi semakin penting. Di samping itu, kemampuan manusia untuk berpikir kreatif, analitik, dan sistematis juga akan semakin dibutuhkan, serta kemampuan manusia untuk beradaptaasi dalam memahami teknologi.

Maka, era ini adalah sebuah panggilan bagi programmer untuk naik kelas. Programmer tidak boleh berhenti pada keterampilan coding. Kemampuan berpikir secara analitis, kreatif, dan sistematis yang disertai kemampuan memahami kesulitan manusia akan membuat ia menjadi berbeda. Semua kemampuan itu, ditambah dengan bantuan kecerdasan buatan, akan memberi daya ungkit besar bagi siapa pun. Pada akhirnya, kita pun bertanya pada kita sendiri, apakah kita siap naik kelas?

Image by This_is_Engineering from Pixabay