Opinion

Jangan Cemas, Yuk Main TTRPG Aja

By Matheus Randy Prabowo •
3 min read

Sewaktu sekolah, mungkin kita pernah mengalami rasa takut atau cemas ketika presentasi di depan kelas. Atau ketika dimintai pendapat, tidak semua orang mau segera bicara. Kadang kita merasa takut salah atau takut diremehkan atau merasa tidak didengarkan. Risiko semacam ini yang membuat kita takut bicara. Bahkan takut untuk berinteraksi dengan orang lain. Tetapi bagaimana kalau risiko ini bisa dimitigasi dengan menciptakan ruang yang aman, salah satunya adalah tabletop role playing game.

Apa sih tabletop role playing game atau TTRPG? Secara umum, TTRPG adalah permainan yang mengizinkan pemain untuk menjadi seorang karakter (playable character) di dunia fiktif di mana ia akan masuk ke dalam narasi cerita, menghadapi tantangan, menjalankan tugas, berinteraksi dengan karakter lain dalam permainan (non-playable character/NPC), dan mengalami sebuah perkembangan atau progresi secara karakter atau naratif.

TTRPG memberikan suatu ruang simulasi yang relatif aman dan fleksibel bagi pemain untuk berinteraksi dengan dunia. Ada seorang game master atau dungeon master atau pemandu yang akan menjelaskan dunia permainan kepada pemain dan memberikan opsi-opsi yang dapat dilakukan. Di dalam TTRPG, pemain memiliki agency, sehingga apa yang dilakukan oleh pemain sungguh dapat mempengaruhi jalannya cerita. Kita simak gambaran cerita yang disampaikan pemandu di bawah ini:

Pemandu: “Ketika hari menjelang malam, tibalah kalian di desa yang kalian tuju yaitu Desa Mekar. Desa itu tampak tidak terlalu ramai, tetapi sepasang mata memperhatikan kedatangan kalian. Kalian melihat seorang laki-laki berbadan kekar, berambut panjang, dan berkumis tebal. Di pinggangnya tampak sebilah golok besar. Tangannya, yang tadinya terlipat di depan dada, direntangkan ke arah kalian sambil berkata, ‘Berhenti! Apa kepentingan kalian di sini.’ Nah, sekarang kalian sebagai pemain, bagaimana responnya?”

Situasi ini jika terjadi di dunia nyata, mungkin saya sendiri ndredeg. Tapi karena ini dunia fiktif, pemain bisa berhenti sejenak dan berpikir. Bahkan bisa berdiskusi baik dalam karakter maupun di luar karakter. Pemain memiliki banyak opsi yang mungkin bisa saja membahayakan karakternya dalam permainan tetapi tidak memberi efek apa-apa di dunia nyata.

Pemain A: “Saya mau coba cari tahu dia ada intensi jahat atau tidak.”

Pemain B: “Coba saya mau cek dia bawa dompet atau tidak.”

Pemain C: “Malah niat nyopet (menanggapi Pemain B). Kalau aku mau coba bicara baik-baik tujuan kita kemari apa.”

Lalu sesuai mekanika permainan yang berlaku, pemandu permainan akan menyelesaikan satu per satu aksi dari pemain. Ia akan menjelaskan risikonya dan kemudian akan menceritakan akibat dari aksi pemain tersebut. Pemain bisa saja berakhir baku hantam dengan penjaga desa tersebut, atau kejar-kejaran, atau masuk dengan damai, atau apapun. Yang jelas, pemain menghadapi konsekuensi atas apa yang ia putuskan, dengan aman. Pemandu memberi ruang bicara untuk setiap pemain. Alih-alih menghakimi, ia menjelaskan risiko dan akibatnya.

Berdasarkan riset yang dilakukan Yuliawati et al. (2024), TTRPG memberikan atmosfer acceptance dan empathy. Para pemain akan punya kecenderungan saling menerima keputusan-keputusan yang dianggap keliru dan bersedia untuk memikul akibat dari keputusan itu bersama-sama. Berangkat dari perasaan diterima dan dihargai, meskipun dari kekeliruan atau kekonyolan, akhirnya pemain lebih memiliki keinginan untuk mengutarakan pendapat dan mengambil inisiatif. Bahkan lebih jauh lagi, bermain TTRPG berpotensi dapat menjadi intervensi psikologis untuk menangani kesepian, kecemasan, dan depresi.

Namun dalam artikel yang sama, Yuliawati et al. (2024) juga menjelaskan bahwa TTRPG tidak selalu cocok dan serta merta dijadikan metode intervensi psikologis. Tidak semua orang cocok dengan TTRPG dan fantasi di dalamnya. Mungkin karena norma yang ada di dalam permainan tersebut terlalu berbeda dengan norma di kehidupan sehari-hari dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Misalnya, dengan kekerasan atau kebebasan yang terlampau bebas dalam permainan. Di samping itu, perlu batasan-batasan yang jelas dan riset yang mendalam dan khusus jika TTRPG memang digunakan secara ilmiah untuk tujuan intervensi psikologis.

Pada akhirnya, TTRPG adalah salah satu opsi “laboratorium sosial”. Bagi guru, bisa saja TTRPG adalah sarana untuk memahami murid-muridnya lebih dalam serta mengajarkan mereka untuk lebih berani mengambil risiko. Bagi psikolog, mungkin TTRPG dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sarana intervensi. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pernah mencoba berburu naga dalam labirin bawah tanah?

Referensi

Yuliawati, L., Wardhani, P. A. P., & Ng, J. H. (2024). A scoping review of tabletop role-playing game (TTRPG) as psychological intervention: Potential benefits and future directions. Psychology Research and Behavior Management, 17, 2885–2903.

Image by 4u4undra from Pixabay

CONTACT US

Location

Jl. Gandaria III No.2, RT.7/RW.1, Kramat Pela, Kec. Kby.Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130

Phone +62 898-8283-842 Time

Monday - Friday: 10:00 - 18:00

Closed on: Saturday, Sunday and Indonesian Public Holiday