Opinion

Main itu Enggak “Doang”

By Matheus Randy Prabowo •
4 min read

Suatu ketika saya mendengar celotehan seorang tetangga yang mengatakan bahwa ia lebih memilih memasukkan anaknya ke bimbingan minat baca atau bimbingan minat belajar (bimba) alih-alih ke dalam taman kanak-kanak (TK) dengan alasan di TK itu “main doang”. Saya menafsirkan bahwa mungkin saja dia lebih ingin anaknya lebih siap secara akademis. Mungkin juga ada alasan lain yang saya tidak tahu, namun saya tidak ingin membahas soal pendidikan anak usia dini atau tumbuh kembang anak.

Saya ingin mendiskusikan bahwa “main” itu tidak “doang”. Bermain adalah kegiatan yang sangat bermanfaat jika dilakukan dengan serius dan pada batas yang tepat. Serius dalam arti, setiap peserta mengikuti aturan permainan dengan sungguh, jujur, konsekuen, dan disertai suatu refleksi. Batas yang tepat artinya tidak berlebihan, tidak mengabaikan tanggung jawab, dan tidak mengabaikan kesehatan diri.

Bermain adalah suatu bentuk interaksi dalam ikatan peraturan yang menimbulkan suatu kesenangan. Secara umum bisa kita pahami sebagai game dalam arti permainan papan atau digital atau sebagai olahraga. Apapun bentuk yang kita pahami, kita sepakat bahwa keduanya membutuhkan peraturan.

Ketika seseorang mengajarkan atau memperkenalkan suatu permainan kepada orang lain, sebenarnya kita mengundang seseorang untuk sepakat dalam peraturan permainan yang berlaku. Pada diri anak, menyepakati peraturan atau kesepakatan ada hal baru dan perlu dilatih. Melalui bermain, seorang anak akan melatih dirinya untuk memahami bahwa kehidupan manusia itu terikat pada suatu kesepakatan sosial. Bayangkan jika seorang anak tidak terbiasa dengan suatu kesepakatan, maka bisa saja dia akan mengalami kendala saat berinteraksi dengan kehidupan sosial yang lebih luas.

Kemudian, permainan selalu memiliki tujuan dan hasil dari tujuan itu biasanya adalah menang atau kalah. Benar, anak harus merasakan kekalahan dan belajar menerima kekalahan. Ia harus belajar meregulasi emosinya dan menyikapinya dengan bijak. Ketika seorang anak baru pertama kali merasakan kekalahan, bisa saja ia menangis atau mengamuk. Tetapi, itu bagian dari pelajaran. Ia harus diingatkan untuk kembali pada tujuannya dan memang harus menghadapi permainan itu.

Di sini anak juga akan belajar untuk berjuang dan pantang menyerah. Pikirannya akan mulai terasah menjadi lebih tajam dan lebih gigih. Namun barangkali, ia bisa saja tergoda untuk berbuat curang. Inilah saat yang tepat untuk mengajarkannya tentang kejujuran dan keadilan. Lagi-lagi anak itu belajar nilai yang baru.

Perkembangannya tidak hanya sampai di situ. Seorang anak awalnya tentu belum bisa menghubungkan informasi satu dengan informasi lain apalagi menyusun taktik paling efisien. Dengan bermain dan sekian banyak try and error, pikirannya akan mulai menata cara untuk menang dan ia akan mulai memikirkan sesuatu yang lebih kompleks. Dari manakah semua perkembangan itu datang? Dari “main doang”.

Apakah perkembangan anak sebagai pribadi yang jujur, tangguh, adil, konsekuen, dan taktis bukan sesuatu yang diharapkan? Bagaimana dengan perkembangan akademis? Kemampuan baca, tulis, dan berhitung? Sedikit pun tidak perlu khawatir.

Ada teori bahwa aktivitas motorik akan menopang kemampuan saraf dan pada akhirnya akademik, namun bukan kapasitas saya untuk mendiskusikan itu. Mari mengambil contoh dalam card game UNO!™. Selain karena game tersebut memiliki peraturan yang cukup sederhana, lambang-lambang dalam kartu sangat mudah untuk dipahami. Lambang ya, bukan angka atau huruf. Sebab, kita tidak boleh terlalu cepat ke perkembangan “anak cepat dapat membaca”. Pertama-tama, anak dapat memahami maksud dari lambang. Perhatikan bahwa banyak orang tidak memahami makna lambang zebra cross pada jalan dan gagal menyepakati norma lalu lintas dengan benar. Membaca lambang serta memahaminya harus lebih didahulukan daripada membaca huruf dan angka, apalagi kalimat.

Ada dua lambang pokok di game UNO!™ yaitu warna dan angka. Pada dasarnya pemain harus mengisi discard pile dengan menyamakan warna atau angka. Kita bisa kesampingkan mekanik stop, reverse, wild card, dan draw card terlebih dahulu. Angka di sini, tidak mempunyai makna numerik. Tidak untuk dikalkulasi. Angka dalam game UNO!™ bukan untuk dijumlahkan atau dioperasikan dengan cara apapun. Sebenarnya jika mau diganti lambang lain bisa saja, tetapi “lambang angka” lebih mudah disepakati dan dikenali. Makna dibalik angka itu tidak terlalu penting karena lebih penting bagi pemain untuk membandingkan antara dua lambang pada kartu. Ketika anak nanti tahu bahwa itu angka berapa, itu hanyalah konsekuensi dari bermain.

Tidak akan saya sangkal bahwa akibat lain dari bermain game kartu adalah bisa mengenal urutan angka. Bagaimana tidak, sebab misalkan di awal permainan setiap pemain harus draw 7 kartu, maka mau tidak mau anak akan menyadari bahwa ada urutan angka setidaknya “satu sampai tujuh”. Apalagi dalam game UNO!™ ada mekanik draw 2 kartu dan 4 kartu, ditambah lagi harus menyerukan UNO! ketika kartu di tangan tinggal satu. Pada akhirnya kemampuan matematis timbul tanpa disadari. Tidak harus diajarkan secara formal dengan simbol matematis yang disepakati.

Kalau saya boleh menyimpulkan, main itu tidak “doang”. Jika dijalani dengan serius ada banyak manfaatnya. Anak dapat berlatih untuk setia pada kesepakatan, jujur, tangguh, pantang menyerah, dan sebagainya. Dan bukan tidak mungkin bahwa bermain membantu anak untuk menyiapkan dirinya untuk hal-hal yang lebih akademis.

Jadi, mau ajak anak main apa ya hari ini?

Credit photo: Image by Alexa from Pixabay

CONTACT US

Location

Jl. Gandaria III No.2, RT.7/RW.1, Kramat Pela, Kec. Kby.Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130

Phone +62 898-8283-842 Time

Monday - Friday: 10:00 - 18:00

Closed on: Saturday, Sunday and Indonesian Public Holiday