Ketika mendengar istilah game edukasi, banyak orang langsung membayangkan permainan yang penuh hafalan, kuis, atau materi pelajaran. Tidak heran jika game edukasi sering dianggap kurang menarik dibandingkan game pada umumnya. Padahal, game memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran baru yang lebih menyenangkan. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam perancangan game edukasi dan bagaimana cara membuat game edukasi yang tetap menyenangkan tanpa mengorbankan tujuan pembelajarannya. Dalam artikel ini, saya akan lebih fokus pada rancangan permainan papan (boardgame), namun sebagian besar prinsip yang dibahas di sini juga dapat diterapkan pada game digital.
Tujuan utama membuat game edukasi biasanya adalah membantu pemain memahami atau mengalami suatu konsep dengan cara yang lebih menyenangkan. Namun karena keterbatasan referensi desain permainan, atau kurangnya umpan balik dari penguji tahap awal, game edukasi yang dibuat sering jatuh ke dalam kategori trivia. Anda mungkin bertanya apa yang salah dengan trivia? Masalah utama trivia adalah, pemain harus sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan sebelum mereka mulai bermain, sehingga proses belajar tidak dilakukan di dalam permainan, melainkan sebelum permainan. Dalam situasi ini, permainan hanya menjadi proses ujian setelah pembelajaran selesai. Jadi wajar saja jika game yang bersifat trivia atau tanya jawab menjadi sangat tidak menarik untuk dimainkan oleh murid-murid.
Selain itu, terkadang suatu game edukasi dijejalkan penuh dengan materi sehingga banyak sekali hal yang harus dipelajari oleh pemain sebelum permainan bisa dimulai. Hal ini sering terjadi ketika materi yang ingin disampaikan merupakan materi yang kompleks. Jika permainan tersebut dimainkan oleh orang yang belum memahami topik tersebut sama sekali, proses belajar cara bermain bisa jadi sangat mengintimidasi. Jika waktu yang anda butuhkan untuk menjelaskan cara bermain permainan anda sudah melebihi tiga puluh menit, maka anda perlu memikirkan kembali cakupan materi pada permainan anda.
Tak jarang juga dalam suatu permainan edukasi, materi atau ilmu yang ingin disampaikan, tidak cocok dengan mekanik atau tema cara bermain permainan tersebut. Beberapa contoh edukasi yang ‘tidak nyambung’ seperti; mengajarkan cara membersihkan lingkungan menggunakan game serupa monopoly, atau mengajarkan tentang hewan terancam punah menggunakan kartu kuartet. Biasanya perancang akan menyematkan flavour text pada kartu atau papan dengan harapan pemain akan membaca dan memahami pesan yang ingin disampaikan. Metode ini dapat membantu penyampaian ilmu, namun biasanya tidak akan berkesan dan terkadang dapat diabaikan sepenuhnya oleh pemain saat bermain.
Saya sering berkata dalam kelas yang saya bawakan, jika anda membuat game edukasi, fokus utamanya bukanlah materi yang disampaikan dulu, melainkan bagaimana caranya agar game tersebut seru untuk dimainkan. Jika game edukasi tidak seru untuk dimainkan, maka materi yang terkandung di dalamnya akan jauh lebih sulit tersampaikan kepada pemain. Jika tujuannya adalah menyampaikan sebanyak-banyaknya materi, medium lain mungkin bisa lebih efektif melakukan hal tersebut misalkan melalui artikel, buku atau video.
Pembeda game dengan medium multimedia lain adalah interaksi. Permainan yang baik memberikan ruang untuk pemain melakukan eksperimen, membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut melalui kekalahan. Ketika kita mengajarkan cara bermain kepada pemain, fokus pada cara bermain terlebih dahulu tanpa mengharuskan pemain untuk menghafalkan terlalu banyak hal. Tidak jarang pemain belum memahami materi yang ingin disampaikan dalam sekali bermain. Namun jika permainan terasa seru bagi mereka, bermain untuk kedua atau ketiga kalinya tidak akan menjadi masalah bagi mereka hingga akhirnya mereka akan mengerti dengan baik. Jika materi yang ingin disampaikan cukup kompleks, jangan ragu untuk memecah permainan menjadi beberapa tahap atau bahkan beberapa judul permainan agar lebih mudah dikonsumsi.
Salah satu contoh yang sering saya gunakan adalah pada game yang pernah saya buat, Stockastic: Stock trading game. Pada game ini, kita tidak perlu mengajarkan kapan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual suatu saham, tetapi kita menjelaskan kepada pemain, apa arti dari informasi yang terdapat pada papan perusahaan di dalam permainan. Pemain akan melakukan kesalahan, membeli ketika performa perusahaan tidak baik, atau menjual ketika performa perusahaan sedang baik-baiknya dan terus menghasilkan dividen. Akibat kesalahan tersebut, pemain mungkin menjadi kalah, dan kekalahan itulah yang akan membekas sebagai pelajaran ketika mereka menyadari apa yang seharusnya dilakukan.
Sebaik-baiknya sebuah permainan edukasi dirancang, tidak akan sempurna tanpa ada proses debriefing yang baik di akhir permainan. Debrief adalah suatu proses percakapan antara fasilitator dengan pemain, bukan ceramah atau seminar. Hal ini yang sering disalahartikan oleh fasilitator. Dalam proses debrief, fasilitator memberikan kesempatan kepada pemain untuk membagikan apa yang mereka dapatkan dari sesi permainan. Tahap ini penting untuk menakar seberapa berhasil sesi permainan yang baru dilakukan. Pada tahap ini, jika permainan dirancang dengan baik, fasilitator akan memiliki banyak pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada pemain misalkan “Kenapa anda menjalankan strategi X?” atau “Menurut anda apa yang membuat anda kalah / menang?”. Pertanyaan seperti itu akan menunjukkan tahap pemahaman pemain yang lebih mendalam dibandingkan pertanyaan “Apa yang anda dapatkan dari sesi bermain tadi?”.
Indikator penting kesuksesan sebuah permainan edukasi adalah ketika pemain yang mencobanya mendapatkan “aha” momen baik di tengah atau di akhir permainan. Selain itu, jika terjadi diskusi antar pemain mengenai strategi, keputusan atau kejadian pada sesi permainan setelah sesi berakhir, maka permainan anda berarti sudah cukup menarik. Ketika pemain berkata “Oh, saya sudah tau cara memenangkan permainan ini, ayo kita main lagi!” itu lah apresiasi terbaik untuk sebuah permainan edukasi. Ketika pemain menikmati sebuah permainan, mereka tidak akan keberatan untuk mengulang pengalaman tersebut berkali-kali. Pengulangan inilah yang sering menjadi salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran melalui game edukasi.
Tidak ada formula yang bisa menjamin sebuah game edukasi akan langsung berhasil. Setiap topik, target pemain, dan tujuan pembelajaran memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun jika ada satu hal yang wajib diingat, game edukasi yang baik tidak hanya mengajarkan sesuatu, tetapi juga membuat pemain ingin kembali bermain. Jika Anda memiliki pengalaman menarik, tantangan, atau pertanyaan seputar perancangan game edukasi, saya akan senang mendengarnya. Saya akan selalu tertarik untuk berdiskusi mengenai perancangan game baik untuk game edukasi ataupun sekedar hiburan saja.
Jl. Gandaria III No.2, RT.7/RW.1, Kramat Pela, Kec. Kby.Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12130
Monday - Friday: 10:00 - 18:00
Closed on: Saturday, Sunday and Indonesian Public Holiday