Opinion

TTRPG Bukan Cuma Dungeons and Dragons, Mungkin Kamu Cocoknya Sama yang Lain

Oleh Matheus Randy Prabowo •
5 menit waktu baca

Saat ini Dungeons & Dragons, atau biasa disingkat D&D, sepertinya sedang booming di Indonesia. Salah satu hal yang ikut memperkenalkan D&D kepada lebih banyak orang Indonesia adalah video Raditya Dika bermain D&D di YouTube, terutama di kalangan pemain berusia muda.

Saya sendiri pertama kali bermain D&D pada tahun 2022 dan semenjak itu memperdalam lebih lagi tentang tabletop role playing game atau TTRPG. D&D bisa dibilang adalah sesepuh dari genre TTRPG ini. Alasannya sederhana, pada tahun 1974, D&D lahir sebagai salah satu pelopor. D&D kemudian menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan genre RPG, termasuk RPG digital yang kita kenal sekarang 

Tiga Pilar Dungeons and Dragons

Permainan atau sesi dalam D&D dipimpin oleh seorang dungeon master (DM) yang tugasnya adalah memberikan konteks situasi kepada pemain, menjalankan dunia permainan, mendengarkan respons pemain, dan menentukan hasil dari tindakan mereka.Pengambilan keputusan sering kali diselesaikan dengan guliran dadu bersisi 20, atau yang akrab disebut D20. 

Secara gameplay, D&D sering dijelaskan melalui tiga pilar: eksplorasi, role-playing, dan combat.  Tentu saja dengan bumbu sihir atau spell dan aneka skill dari masing-masing karakter yang dilakoni pemain. Menariknya, ketiga pilar ini tidak memiliki tingkat detail aturan yang sama.

Pada aspek eksplorasi, karakter pemain diberi pilihan untuk menjelajahi ruang bawah tanah (dungeon), alam liar, atau mungkin rumah Pak Lurah di kampung setempat. Dalam eksplorasi ini, DM bisa menambahkan berbagai unsur narasi, misteri, teka-teki, jebakan-jebakan gaya Indiana Jones, harta karun, dan tentu saja menghadapi naga raksasa.

Jika dalam penjelajahan itu pemain menghadapi musuh, solusinya tidak selalu harus baku hantam. Pemain kadang mati-matian bernegosiasi, berusaha berkompromi, atau kadang berupaya agar musuh tersebut bisa diajak berkawan. Role-playing mencakup bagaimana pemain memerankan karakter mereka, mulai dari berbicara dengan NPC, mengambil keputusan berdasarkan kepribadian karakter, hingga menentukan bagaimana karakter bereaksi terhadap situasi tertentu.

Combat, jujur saja, mendapat porsi mekanik yang sangat besar dalam D&D. Peraturan combat dalam D&D jauh lebih terstruktur dibandingkan mekanik eksplorasi dan role-playing. Mulai dari siapa yang bertindak lebih dulu (initiative), menentukan apakah serangan mengenai target (attack roll), menghitung damage, hingga berbagai kondisi dan kemampuan khusus. Karena itu, tidak mengherankan jika combat sering dianggap sebagai aspek yang paling dominan dalam desain D&D.

Kalau Tidak Suka Combat Terus Bagaimana?

Tidak sedikit DM atau pemain yang lebih menyukai permainan dengan sedikit baku hantam. Mereka mungkin lebih menyukai negosiasi, aksi stealth, drama karakter, atau investigasi. Memang, D&D tetap bisa dimainkan dengan porsi combat yang sedikit. Namun, kamu tidak harus memaksakan D&D untuk mendapatkan pengalaman seperti itu. Ada banyak TTRPG lain yang memang sejak awal dirancang untuk memberikan pengalaman bermain yang berbeda.

Sebut saja Call of Cthulhu (CoC), sebuah TTRPG horor investigatif yang terinspirasi dari karya-karya H.P. Lovecraft. Setting yang paling dikenal berada pada awal abad ke-20, bukan dunia medieval fantasy seperti D&D. Permainan ini berpusat pada investigasi kejadian-kejadian aneh dan misterius yang sering kali berkaitan dengan okultisme atau entitas asing. Dalam permainan seperti ini, mencari petunjuk, memahami informasi, dan mengambil keputusan yang tepat bisa jauh lebih penting daripada mengalahkan musuh dalam pertarungan.

Ada juga Kutuk, TTRPG karya perancang Indonesia. Kalau kamu suka dengan misteri sumur belakang sekolah yang katanya sering terdengar suara-suara aneh atau muncul penampakan, mungkin Kutuk lebih cocok buat kamu. Mekanik permainan ini lebih berfokus pada investigasi dan pengalaman horor, termasuk cerita yang berkaitan dengan sekolah dan urban legend. Dengan begitu, kamu tidak perlu menunggu ada monster yang harus dipukul untuk mendapatkan ketegangan dari permainan.

Kalau kamu suka Jurassic Park, ada juga TTRPG fan-made yang mengajak pemain menjelajahi dunia film tersebut. Salah satunya adalah Jurassic Park: Edge of Chaos. Kamu dapat memainkan karakter dalam dunia Jurassic Park dan menjelajahi Isla Nublar tanpa harus mengikuti persis alur cerita film pertama tahun 1993. Pengalaman bermainnya lebih dekat dengan eksplorasi dan survival: dinosaurus bukan sekadar musuh yang harus dikalahkan, tetapi juga ancaman yang harus dipahami dan dihindari.

Contoh-contoh tersebut baru sebagian kecil dari dunia TTRPG. Ada permainan tentang survival, horor, dunia pasca-kiamat, cyberpunk, luar angkasa, drama, investigasi, dan berbagai genre lainnya. Bahkan, ada TTRPG yang mekaniknya sengaja dibuat sangat berbeda dari D&D. Jadi, jangan hanya mencari TTRPG yang paling populer. Cari permainan yang menawarkan pengalaman yang memang kamu sukai.

TTRPG Bukan Satu Genre

Hal menarik dari TTRPG adalah bahwa TTRPG sebenarnya bukan satu genre permainan. TTRPG lebih tepat dipandang sebagai sebuah medium. D&D menggunakan medium tersebut untuk menghadirkan petualangan fantasy dengan eksplorasi, perkembangan karakter, dan combat taktis. TTRPG lain bisa menggunakan medium yang sama untuk menghadirkan investigasi horor, survival, drama karakter, atau bahkan cerita fiksi ilmiah.

Karena itu, ketika seseorang berkata bahwa dirinya tidak suka TTRPG, bisa jadi masalahnya bukan pada TTRPG itu sendiri. Mungkin ia hanya belum menemukan TTRPG yang cocok. Sama seperti seseorang yang mengatakan tidak suka film hanya karena tidak menyukai film superhero, mungkin yang perlu dicari bukan medium yang berbeda, tetapi pengalaman yang berbeda di dalam medium yang sama.

Pentingnya Komunitas

Setelah menemukan berbagai jenis TTRPG, pada akhirnya kita tetap membutuhkan satu hal yang cukup sederhana: teman bermain. Memang ada solo TTRPG yang bisa dimainkan sendirian, tetapi bagi banyak orang, pengalaman bermain TTRPG menjadi lebih menarik ketika dilakukan bersama pemain lain.

Kamu bisa mulai dengan bergabung ke komunitas D&D di kotamu. Jangan terlalu khawatir soal label “komunitas D&D”. Banyak komunitas D&D juga terbuka terhadap judul TTRPG lain, karena D&D sering kali hanya menjadi titik temu bagi orang-orang yang sama-sama tertarik dengan TTRPG. Dari sana, kamu bisa mengenal game lain, mencoba menjadi pemain di sistem yang berbeda, atau bahkan belajar menjadi Game Master.

Dalam komunitas yang saya ikuti, beberapa pemain akhirnya tidak hanya menjadi DM, tetapi juga mencoba membuat permainan mereka sendiri. Pada titik ini, komunitas bukan hanya tempat mencari teman bermain. Komunitas juga menjadi tempat belajar, berdiskusi, dan menguji permainan yang sedang kita buat.

Jadi, kalau kamu baru mau mencoba TTRPG, mungkin pertanyaan pertama yang perlu kamu tanyakan bukanlah, “TTRPG apa yang paling populer?” Melainkan, “Pengalaman seperti apa yang ingin saya dapatkan dari sebuah permainan?” Bisa jadi jawabannya memang D&D. Bisa jadi Call of Cthulhu, Kutuk, atau TTRPG lain yang bahkan belum pernah kamu dengar. Dunia TTRPG cukup luas untuk menampung semuanya.

Image by franciscoucha from Pixabay